Tuesday, July 31, 2018

Perkembangan Teori Ekonomi Dualistik, Dualisme Lembaga Ekonomi dan Dualisme Ekonomi menurut J.H. Boeke

Perkembangan Teori Ekonomi Dualistik


Sifat ekonomi dualistik oleh J.H. .Boeke sendiri telah dikemukakan tidak hanya berlaku bagi Indonesia (pada waktu itu masih disebut Indie atau Nederlandsche Indie). Setelah J.H. Boeke mempelajari ilmu ekonomi India dan Jepang maka kemudian dinamakan Ilmu Ekonomi Timur atau Oosterse Economic (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris - Eastern Economy). Sesudah Perang Dunia ke II, dengan meluasnya ilmu ekonomi pembangunan, teori Boeke menjadi sangat populer. Teori ekonomi dualistik temyata tidak hanya berlaku di dunia Timur tetapi juga di negara-negara sedang berkembang khususnya dan negara-negara di dunia pada umumnya. Di negara yang telah maju pun gejala ekonomi dualistik itupun dijumpai. Di Amerika Serikat, misalnya, ada perekonomian Negro dan perekonomian Kulit Putih. Di Jepang juga ada perekonomian tradisional dan perekonomian modern. Demikian pula di Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan lain-lain.

Benjamin Higgins melihatnya tidak dari sifat sosial ekonominya, akan tetapi dari segi tingkat teknologi (dalam arti luasl yang digunakan oleh kelompok masyarakat dalam suatu negara yang sedang mambangun. Oleh sebab itu teorinya tidak dinamakan dual society tetapi disebutkan dual technology.

Hla Myint melihatnya dari lain lagi, yaitu dari sudut lembaga finansial yang digunakan. Di negara sedang berkembang terdapat dua kelompok masyarakat yang menggunakan dua macam lembaga finansial yang jauh berbeda. Kelompok yang satu (bumi putera) menggunakan lembaga yang masih sangat sederhana, misalnya kredit langsung berupa barang, kredit langsung berupa uang dengan angsuran berupa penyetoran barang, sistem ijon. dan tempah (prepayment), sedangkan kelompok lain telah' menggunakan lembaga finansial modern seperti pasar uang dan pasar modal, lembaga per-bankan dan kredit, hipotik J.S. Furnivall melihatnya lain lagi. Di negara sedang berkem¬bang dijumpai banyak kelompok masyarakat yang memperlihatkan perlakuan ekonomi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Apabila Hla Myint menyebut financial dualism, maka J.S. Furnivall menyebutp/ura/ society atau masyarakat plural.

Dualisme Lembaga Ekonomi dan Dualisme Ekonomi menurut J.H. Boeke

Apabila disimak lebih mendalam, perkembangan teori dualisme yang lebih kemudian ternyata lebih dititik-beratkan pada kenyataan-kenyataan lembaga ekonomi yang ada dalam suatu masyarakat. Lembaga-lembaga ekonomi memang nampak lebih kongkrit dan lebih menyangkut kegiatan ekonomi sehari-hari. 

Hla Mynt yang menitikberatkan pada lembaga keuangan, sebagai alat pertukaran, menghimpun dana atau kekayaan dan lain- lain menamakannnya dualisme finansial. Dalam negara sedang berkembang dalam kenyataannya memang ada dua macam lembaga finansial yang per-bedaannya sangat menyolok. Untuk Indonesia misalnya, dapat disak-sikan bahwa pada satu pihak lembaga keuangan yang digunakan oleh penduduk asli masih bersifat tradisional seperti gotong-royong, sistem ijon, sistem arisan, sistem mendereng dan rumah gadai, sedangkan pada pihak lain yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar dan terutama milik swasta asing dan atau milik negara adalah lembaga keuangan yang telah maju dan canggih seperti bank-bank, pasar modal, surat-surat berharga dan kredit hipotik. 

Sebagaimana dapat disaksikan bahwa gotong-royong misalnya adalah alat hutang-piutang atau kredit bagi masyarakat yang belum banyak menggunakan uang dan kelebihan sumber daya ekonomis. Yang utama adalah berupa tenaga kerja. Demikian pula sistem ijon. Sistem ijon timbul karena lembaga agunan yang berdasarkan hukum Barat belum berkembang dan risiko terhadap kegagalan panen ada pada pihak yang kaya atau lebih kuat, yaitu ada pada kreditur. Berbeda misalnya, dengan kredit perbankan yang memerlukan agunan otentik dan segala macam risiko ditanggung terutama pada pihak debitur. 

Bahwasanya bunga kredit dalam sistem ijon adalah lebih tinggi dari pada kredit perbankan secara rasional dapat dibenarkan. Sistem arisan mudah dilaksanakan dalam masyarakat yang masih bersifat gotong-royong dan kelebihan sumber daya terutama dalam bentuk waktu dan atau tenaga kerja. Demikian pula sistem gadai yang menggunakan agunan barang bergerak, sistem mendereng yang menggunakan sistem penagihan langsung lebih cocok untuk masyarakat yang kehidupan ekonominya lebih sederhana. 

Benyamin Higgins yang lebih melihat kenyataan kongkrit perbedaan dalam tingkat teknologi, menamakannya sebagai dualisme teknologi. Sebagaimana diketahui, tehnologi, dalam hal ini adalah juga suatu bentuk lembaga ekonomi khususnya dalam proses atau kegiatan produksi. Pada suatu pihak dalam masyarakat asli, tradisional, di mana jumlah tenaga dan jam kerja melimpah dijumpai penggunaan teknologi sederhana sedangkan pada pihak lain dijumpai tingkat teknologi canggih yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan   besar,   utamanya   perusahaan   swasta   asing dan perusahaan pemerintah. 
Teknologi sederhana yang digunakan oleh pendudukasli adalah tingkat teknologi yangsesuai dengan kehidupan ekonomi mereka yang hanya memiliki tenaga kerja. Secara massal kelebihan tenaga kerja digunakan untuk gotong-royong membuat rumah, melakukan upacara adat, dan lain-lain serta untuk gugur gunung, untuk membuat atau membersihkan jalan, membuat dan membersihkan saluran irigasi dan sebagainya. Apabila gotong-royong digunakan sebagai alat pertukaran, maka gugur gunung merupakan kerja bakti untuk kepentingan seluruh masyarakat yang berupa obyek-obyek pekerjaan umum. 

Secara individual, kelebihan tenaga kerja dan atau waktu digunakan untuk mengerjakan barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti meja kursi (dari bambu), alat-alat dapur, pagar, bertani, menanam tanaman kebun (sayur dan apotik hidup), mengerjakan sawah dan sebagainya. Secara individual kelebihan waktu dan tenaga digunakan untuk produksi barang-barang kerajinan dan kesenian yang sarat berisi tenaga kerja. Teknologi barang kerajinan karena sarat berisi tenaga kerja tidak mengherankan apabila barang yang diproduksi penuh dengan nilai seni. Apabila di Jawa dijumpai batik tulis, kerajinan wayang, tanduk dan lain-lain, maka di pulau Bali dijumpai pula seperti ukiran patung, ukiran batu dan kerajinan tenun. Hal yang sama, dapat pula dijumpai di Toraja, Bugis, Manado, Ambon,. Irian Jaya, Batak, Palembang, Dayak, Sumba dan lain-lain. Sebagai akibat komersialisasi dan monetisasi serta makin meningkatnya kebutuhan sehingga waktu dapat menjadi barang yang ekonomis, tidak mengherankan apabila nilai barang-barang seni tersebut banyak mengalami kemerosotan-kemerosotan. 

Apabila Arthur Lewis mengenal dualisme ekonomi . dalam sektor pertanian (di mana dijumpai unlimited supply of labours) dan dalam sektor industri tdi mana dijumpai mengenal produk yang position maka Gunnar Myrdal mengemukakan dualisme ekonomi dalam dua daerah atau regional dualism. Menurut Lewis, sektor pertanian mengenal products yang nol atau negatif maka dalam sektor industri yang dilakukan oleh swasta asing mengalami marginal products yang positif. 

Menurut G. Myrdal, daerah miskin yang luas mengalami viciours cincles dan backwash effectsnya lebih besar dari spread-effectsnya. Daerah yang kaya mengalami virtuous circles dan backwash- effects-nya lebih besar dari spread- effects-nya. Daerah yang kaya mengalami virtous circles dan spread- effects-nya lebih kuat dari bockwash-effects-nya, sehingga perbedaan antara daerah kaya dan daerah miskin makin jauh dan makin meluas. Apabila Sinelaei melihat adanya dualisme sektoral, yaitu sektor formal dan sektor informal, maka H. Geerth mengenal dualisme per-tanian, yaitu pertanian sub-sistent (produksi untuk konsumsi sendiri) pada satu pihak dengan pertanian yang ditujukan untuk pasar (jadi berorientasi pasar) pada pihak yang lain. Dualisme yang lain seperti dualisme lingkungan dan dualisme rasionalitas dapat dipelajari sen¬diri dalam buku Yotopoulos dan Nugent.

Apabila teori dualisme yang telah dibicarakan lebih mengarah pada suatu lembaga ekonomi seperti teknologi, lembaga finansial, penawaran tenaga kerja dan regional maka dualisme ekonomi J.H. Boeke lebih mengarah ke arah secara keseluruhan kerena menyangkut kehidupan sosio-kultural pada umumnya. Jadi lebih menyangkut dasar-dasar dan akar segala macam kegiatan ekonomi. Pandangan Boeke lebih menyangkut pada nilai-nilai filosofis yang dijunjung tinggi serta lebih menyangkut nilai-nilai atau pandangan hidup mengapa kebutuhan harus dibatasi, mengapa materialisme hanya persoalan sementara, mengapa lebih menekankan hidup di surga, dan lain-lain, adalah lebih menyangkut soal nilai, falsafah dan pandangan hidup masyarakat.