Wednesday, August 1, 2018

Tempat Pemasaran Hasil Industri Negara-negara Induk

Tempat Pemasaran Hasil Industri Negara-negara Induk

Hasil-hasil produksi barang-barang primer sangat dibutuhkan bagi kebutuhan masyarakat, kesempatan kerja serta industri-industri di negara-negara induk. Berkembangnya industri-industri, lembaga-lembaga bank, asuransi, usaha pengangkutan negara induk banyak dibantu oleh kegiatan-kegiatan tersebut.

Produk hasil-hasil industri mereka sudah tentu tidak hanya dipasarkan di negara bersangkutan, tetapi juga di negara-negara induk lainnya sehingga nota bene juga daerah jajahan tempat asal barang-barang produksi primer bersangkutan. Karet, timah coklat, kina, sepeda, alat-alat dan rumah tangga, bahan primernya berasal dari Indonesia tetapi pemasaran hasil karyanya juga di Indonesia.

Sudah tentu dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi dari harga bahan dasarnya. Karena alasan prinsip-prinsip ekonomi industri (termasuk ekonomi transportasi) mendirikan pabrik kina di Bandung, pabrik tekstil di Garut dan terakhir di Tegal (filial Twente) lebih banyak mendatangkan keuntungan ekonomis oleh karena mendekati konsumen, mendekati upah buruh yang lebih murah dan lain-lain. Demikian pula pabrik ban, pabrik baja (industri rumah tangga), dan industri barang- barang kon-sumsi. Meskipun pendapatan per kapita rendah, daerah- daerah jajahan mempunyai potensi pemasaran yang luas, antara lain karena:
(1) Jumlah penduduk yang banyak dengan tingkat pertambahan ab-solut yang banyak pula?)
(2) Permintaan efektif .tidak hanya ditentukan oleh pendapatan tetapi ditentukan pula oleh kekayaan yang dapat dijual.
(3) Demonstration effect dalam konsumsi.

Jumlah penduduk yang banyak, meskipun pendapatan perkapitanya rendah tetapi mempunyai kebutuhan yang bersifat mendesak yang harus segera dipenuhi secara relatif dalam jumlah yang besar pula. Karena pengaruh modernisasi serta materialisasi kebutuhan yang dalam cara kolot ditekun melalui hidup sederhana (cegah dhahar lawan guling. Serat Wulang Reh lan aja asukan-sukan, anganggoa sawatasis), tirakat, prihatin dan lain-lain kemudian meningkat secara drastis sehingga merupakan revolution of rising demand. Tingkat konsumsi digeser ke atas sehingga melonjak dan belum tentu diikuti dengan peningkatan pendapatan.

Meluasnya informasi melalui media massa (radio, TV, surat kabar dan lain-lain) dan juga pendidikan formal antara lain berakibat pula meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat yang tidak sebanding dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Meningkatnya jumlah penduduk yang besar secara absolut (meskipun secara relatif sudah dapat ditekan melalui Keluarga Berencana) akan menambah jumlah permintaan barang-barang konsumsi. Pada waktu sekarang barang konsumsi telah melonjak demikian tinggi jika dibandingkan dengan sebelum Perang Dunia II, pada waktu Zaman Jepang, dan pada waktu perjuangan kemerdekaan. Jumlah dan kualitas makanan, jumlah dan kualitas pakaian, kendaraan, rumah dan perabot rumah, alat-alat pendidikan, alat-alat kesehatan, alat-alat hiburan telah melonjak secara cepat sehingga mengaburkan pengertian pola hidup sederhana, mengkolotkan hidup prihatin (disengaja). Revolution of rising demand tersebut merupakan potensi besar bagi pemasaran barang-barang hasil industri yang secara langsung atau tidak langsung dimiliki oleh negara-negara induk.
Permintaan efektif adalah permintaan yang didukung dengan uang atau dengan daya beli. Pada umumnya daya beli ini dikaitkan dengan pendapatan seseorang. Apabila pendapatan besar maka daya belipun tinggi. Tetapi hendaknya jangan dilupakan bahwa daya beli seseorang mungkin pula ditentukan oleh kekayaannya. Seseorang dapat membeli sebuah sepeda motor Honda, misalnya, tidak berasal dari uang tabungannya tetapi berasal dari hasil penjualan tanah warisan orang tuanya.

(Mungkin yang dahulu menabung atau membeli tanah nenek moyangnya). Sekarang banyak terjadi orang membeli TV, kendaraan bermotor dan lain-lain bukan dari tabungan yang telah ada atau tabungan yang akan datang melainkan dengan cara menjual tanah, menjual rumah atau menjual aktiva lain. Banyak pula terjadi bahwa seseorang membeli kendaraan dipergunakan untuk merampok, menjambret dan mencuri atau dengan perkataan lain untuk meningkatkan penghasilan dan konsumsinya dengan cara melanggar dasar-dasar moral. Adapun bagaimana hubungan antara meningkatnya konsumsi, meningkatnya pemasaran dengan meningkatnya kriminalitas serta demoralisasi kiranya membutuhkan suatu studi tersendiri. Demonstration effect arti kongkritnya adalah sifat mudah meniru. Kiranya merupakan hukum moral yang bersifat universal bahwa meniru berbuat yang tidak pantas atau meniru untuk berbuat yang mengenakkan (konsumtif) lebih mudah dilaksanakan daripada meniru untuk bekerja keras, meniru teknologi, meniru dalam proses produksi dan lain-lain. Panggawe ata puniku sok weruh anuli bisa panggawe becik iku aras-arasen den lakoni, sanajana mupan gati badaneki (Dalami Serat Wulang Reh). 

Meniru hal yang kurang pantas mudah dilakukan, meniru hal yang baik segan untuk melaksanakan meskipun akhirnya berfaedah bagi hidup seseorang. Pcngaruh modcrnisasi dan wesleraisasi sangat mudah bagi kebanyakan orang untuk meningkatkan makan-minumnya, pakaiannya, kendaraannya, alat-alat hiburannya, rumahnya dan lain-lain meskipun belum tentu diikuti dengan bekerja lebih efektif, lebih ulet dan lebih efisien.

Meningkatnya konsumsi barang-barang mewah sebagai akibat demonstration effect merupakan pasaran potensial bagi industri-industri tersebut di atas. Kesukaan akan barang-barang buatan luar negeri, dalam art) buatan negara-negara induk, secara langsung merupakan mental warisan akibat penjajahan.
Penjajahan tidak hanya berpengaruh dalam bidang politik tetapi juga dalam bidang hukum, ekonomi, dan juga dalam bidang kebudayaan, termasuk mental dan nilai-nilai yangdijunjung tinggi Karena menggunakan skill, manajemen. teknologi yang lebih tinggi adalah logis apabila produknya juga mempunyai kualitas yang lebih tinggi. Termasuk kualitas yang dibandingknn dengan tingkat harganya. Patriotisme tidak hanya diperlukan dalam bidang politik tetapi juga dalam bidang pendidikan, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain. Patriotisme dalam bidang pendidikan, ekonomi dan kebudayaan kiranya membutuhlan proses yang lama karena menyangkut motivasi, nilai-nilai yang dijunjung tingggi dan sebagainya.